Nge-Gosip Itu Pilihan

9 tahun aku hidup di lingkungan berpenghunikan wanita seluruhnya (pesantren/ asrama), ternyata mampu membuatku memahami apa yang disebut analisis per-gosip-an.

Sebenarnya, gosip itu pilihan. Yap! Dulu, aku sempat lihai bergosip. Rasanya enak banget. Semakin lama dibahas, semakin tajam dikupas, semakin pedas dibumbui, rasanya semakin nikmat. Itulah gosip, aktifitas yang sarat akan dosa.

Namun, dulu juga aku bertekad untuk hijrah. Meninggalkan gosip sepenuhnya. Sulit. Tapi, sekali lagi nge-gosip alias 'ngerasani' alias 'ghibah' tersebut adalah pilihan. Jika aku bisa memilih nge-gosip tentu aku juga bisa memilih untuk tidak nge-gosip kan?

Bayangkan saja, jika kita nge-gosip, otomatis dosa bertambah, terus bahagianya dimana? Dapet siksa kubur? Mampir neraka lebih lama? Bahagianya dimana coba? Kan 'ngerasani' tuh ibarat makan daging mentah saudara sendiri, menjijikkan. Tapi, rasa nikmat dan puas dari nge-gosip adalah hasil perpaduan hati kita yang tidak bersih dengan bisikan setan. Alhasil keenakkan deh.

Tapi, dari seluruh pergosipan yang aku amati, selalu terjadi unsur seperti ini: A dan B nge-gosip tentang C. Kemudian B keluar, dan C duduk bersama A. Maka A dan C nge-gosip B. Ketika tidak ada A, yang ada hanya B dan C, maka keduanya nge-gosip tentang A. Betul? Lalu dimana letak persahabatan sejatinya? Tak pernah ada.

Memang, mendengarkan gosip saja sudah berdosa. Maka ketika bertemu dengan orang yang akan nge-gosip, kita bisa lakukan tips dariku dibawah ini:
1. Jangan terpancing untuk nge-gosip. Tetap arahkan obrolan ke arah yang manfaat atau non-gosip.
2. Jika tidak bisa melakukan langkah pertama diatas, pilihlah kalimat menghindar yang sopan, seperti "Maaf saya harus ke kamar mandi"
Mudah kan?

Dan nge-gosip itu juga menyebabkan kecanduan, orang yang terbiasa 'ngerasani' orang lain, akan sulit melepas kebiasaan tersebut. Tapi, semuanya bisa dikalahkan dengan tekad hijrah yang kuat. Karena nge-gosip adalah pilihan.

Beruntung, aku memiliki suami yang anti gosip banget. Hidup bersamanya berbulan-bulan, tanpa nge-gosip alias tanpa ghibah. Ketika lidahku akan tergelincir untuk nge-gosip, pasti ia dengan sigap memanggilku dengan nada agak panjang, "Umi......"

Maka sekali lagi aku katakan, nge-gosip adalah pilihan kita. Diam dan tidak mendengarkan gosip, atau bicara dan gabung bergosip? Tentukan pilihan kita sekarang. Karena usia, keranda, kain kafan, dan alam kubur tak bisa dikompromi, jika sudah tiba, tak bisa ditunda-tunda.

Yuk hijrah !
Yuk jangan ghibah !

Post a Comment

My Instagram

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes